OJK Pastikan Kondisi Sektor Jasa Keuangan Stabil, Ini Alasannya

OJK Pastikan Kondisi Sektor Jasa Keuangan Stabil Ini Alasannya - OJK Pastikan Kondisi Sektor Jasa Keuangan Stabil, Ini Alasannya

OJK Pastikan Kondisi Sektor Jasa Keuangan Stabil, Ini Alasannya

Di lansir dari impreglon-baltimore.us Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berusaha untuk menjaga sektor jasa keuangan tetap stabil. Dan terus berupaya mendorong upaya pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid 19. Dengan senantiasa melakukan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak serta lembaga terkait.

Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, pekan ini menilai bahwa berdasarkan data hingga Februari 2021, stabilitas sistem keuangan masih terjaga dan mampu mendorong proses pemulihan perekonomian yang sedang dilakukan Pemerintah.

Sejak awal tahun ini hingga Maret 2021, OJK sudah mengeluarkan 7 Peraturan OJK (POJK). Dan juga 10 Surat Edaran OJK (SEOJK) kepada industri jasa keuangan mengenai berbagai ketentuan di industri pasar modal, perbankan, dan IKNB.

Mengenai hal perkembangan kebijakan restrukturisasi kredit dan pembiayaan yang dikeluarkan OJK, untuk menjaga sektor usaha dan stabilitas sistem keuangan. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan bahwa jumlahnya terus meningkat. Meski trennya semakin melandai sejak akhir tahun lalu.

Nilai outstanding (di kurangi nilai pelunasan) restrukturisasi kredit untuk sektor perbankan sampai dengan Januari 2021 mencapai Rp825,8 triliun untuk 6,06 juta debitur.

Di kutip dari dailyforum.net Jumlah ini mencapai 15,32 persen dari total kredit perbankan. Jika tidak di restrukturisasi, debitur tersebut akan default dan memberikan dampak besar bagi kinerja perbankan dan akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan serta perekonomian nasional.

Perbankan telah merestrukturisasi 4,37 juta debitur UMKM dengan total baki debet mencapai Rp328 triliun, sedangkan jumlah debitur korporasi yang di restrukturisasi sebesar 1,68 juta debitur dengan baki debet sebesar Rp497,7 triliun.

Wimboh menyatakan upaya pemulihan ekonomi akan berjalan dengan baik. Apabila jika semua pihak yang terlibat tidak berjalan sendiri namun senantiasa melakukan koordinasi dan komunikasi. Dan koordinasi tersebut di lakukan dengan pihak/lembaga terkait dalam mengeluarkan kebijakan. Menurutnya, penurunan suku bunga kredit bukan satu-satunya solusi untuk mendorong pertumbuhan kredit.

Berdasarkan data OJK, tren suku bunga menurun yang terjadi di masa pandemi juga belum mampu menjadi stimulus bagi pelaku usaha. Dan juga sedikitnya pelaku usaha yang menggunakan fasilitas kreditnya. Pantauan OJK juga menunjukkan bahwa penurunan bunga kredit modal kerja dan investasi tidak mempengaruhi jumlah penyaluran kredit perbankan.

Hal tersebut menunjukkan masih terdapat potensi penurunan SBDK dan SBK dari penurunan profit margin. Selain itu, suku bunga dana (deposito 12 bulan) juga mengalami penurunan sebesar 122 bps dari 6,87 persen menjadi 5,64 persen