Perkembangan Industri Otomotif Terpuruk di Masa Pandemi

Perkembangan Industri Otomotif Terpuruk di Masa Pandemi membuat otomotif dan Autonomous Vehicle (AV) merasakan dampak negatifnya. Pandemi  membuat permintaan kendaraan telah turun tajam. Berbagai perkiraan muncul tentang seberapa cepat perusahaan dalam industri ini akan bergerak maju dan berapa persentase yang akan bertahan. Namun satu hal yang pasti bahwa pandemi telah membuat dunia otomotif terpuruk.

Penundaan di Pembuat Chip

Survei terhadap 46 perusahaan dalam rantai pasokan IC otomotif, menunjukkan bahwa hampir dua pertiga responden ingin penundaan dalam penerapan teknologi untuk peluncuran yang akan datang di industri.

“Hampir 65 persen perusahaan mengatakan mereka melihat penundaan dalam penerapan teknologi proyek yang akan datang,” kata analis semikonduktor industri otomotif di IHS Markit, Phil Amsrud.

Konsekuensi dari penundaan tersebut, lanjut Amsrud, sebuah chip dengan ukuran node 7-nanometer mungkin akan dikirimkan dalam ukuran node 14-nanometer sehingga menurunkan ekspektasi dan ambisi untuk platform AV tertentu.

Amsurd juga menjelaskan bahwa salah satu efek masa Pandemi adalah orang semikonduktor mengharapkan beberapa penundaan program pengembangan (self-driving) mereka. Perancang chip AV akan memperlambat upaya Research and Development (R&D) mereka selama beberapa kuartal berikutnya.

Sebuah survei terpisah yang dilakukan oleh perusahaan konsultan KMPG terhadap 22 eksekutif tingkat tinggi di perusahaan semi inductor seluruh dunia menemukan bahwa 27 persen mengira pandemi akan berdampak negatif pada adopsi, investasi, dan pertumbuhan penjualan AV.

Sementara itu 9 persen di antara mereka mengatakan pandemi akan berdampak positif terhadap AV dan 59 persen menjawab netral.

Penjualan Mobil Menurun

Dampak dari penundaan dan perlambatan pembuatan chip akan memengaruhi inovasi. HIS Markit memperkirakan penjualan mobil global turun setidaknya 22 persen akibat pandemi. Sementara di Amerika Serikat penurunan tersebut lebih buruk sekitar 26,6 persen dari total yang menghasilkan 12,5 juta penjualan kendaraan.

Analis industri otomotif IDC Matt Arcaro mengatakan bahwa tanpa manufaktur kendaraan sekarang, akan ada dampak yang signifikan bagi pembuat chip. Arcaro berpikir sektor otomotif menjadi area utama pertumbuhan chipset karena skala dan volumenya.

Ada kemungkinan masa Pandemi dapat mempercepat pasar yang memaksa pembuat chip fokus pada sektor otomotif.

Fungsionalitas AV Baru

Menurut sumber http://bobsledsong.com/ Sebelum pandemi virus corona, sejumlah perusahaan menjanjikan fungsi Society of Automotive Engineers (SAE) Level 5 untuk produksi mobil yang akan datang. Namun, sekarang hal tersebut tampaknya sangat sulit direalisasikan.

Fungsionalitas SAE level 3 pun, kata Amsurd, sudah menimbulkan tantangan karena penundaan dari R&D. Penundaan ini berarti perkenalan dan pengumuman yang dijadwalkan, harus didorong setahun.

Startup kendaraan listrik asal China, Xpeng, memperkenalkan sedan sport EV Xpeng P7 akhir April lalu. Kendaraan ini dilengkapi dengan fungsionalitas SAE level 3. Pada saat yang sama, pembuat mobil asal Jerman, Audi justru membatalkan untuk memasukkan sistem SAE level 3 Traffic Jam Assist (TJA) dalam model A8 2020.

Penundaan Robo-Taxi

Sejumlah ahli kesehatan mengatakan bahwa robo-taxi tanpa pengemudi mungkin sangat diinginkan karena tidak akan ada manusia di kursi depan untuk menyebarkan virus atau kuman. Namun, belum ada kabar pengembangan atau penerapan robo-taxi sampai saat ini.

“Robo-taxi telah lama diajukan sebagai solusi yang paling tepat untuk otonomi. Upaya itu tidak akan hilang, tapi pasti melambat. Otonomi penuh akan lebih banyak didorong ke penggunaan yang berhubungan dengan bisnis seperti pertambangan, logistik, operasi gudang, dan tempat lain di mana adanya kebutuhan, potensi efisiensi, dan hemat biaya,” kata analis otomotif Gartner, Michael Ramsey.