Strategi Tangkap Peluang Relokasi Industri

Strategi Tangkap Peluang Relokasi Industri

Strategi Tangkap Peluang Relokasi Industri

Strategi Tangkap Peluang Relokasi Industri, – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, pemerintah sedang menyusun inisiatif pembangunan super hub sebagai sentra produksi, perdagangan, teknologi dan keuangan.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pandemik COVID-19 yang masih berlangsung sampai hari ini memberi pelajaran berharga bahwa rantai pasok barang tidak dapat terpusat di satu negara karena terlalu berisiko.

Melansir dari laman http://utowndc.com, Airlangga mengatakan, hal pertama yang akan dilakukan pemerintah adalah menyelesaikan pembahasan RUU Cipta Kerja dengan DPR RI. Hal yang disasar adalah penciptaan lapangan kerja, peningkatan kompetensi pencari kerja dan kesejahteraan pekerja, peningkatan produktivitas pekerja, serta peningkatan investasi.

“Transformasi ekonomi pun diharapkan lahir agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Dan mencapai Indonesia Maju 2045 sebagai lima besar negara dengan perekonomian terkuat di dunia,” ujarnya dalam HSBC Economic Forum secara virtual, Rabu.

Pemerintah akan menyusun daftar prioritas investasi

Kemudian, lanjut Airlangga, pemerintah akan menyusun daftar prioritas investasi. Daftar ini disusun dengan pendekatan picking the winners yang nantinya akan mencakup bidang-bidang usaha yang akan didorong dan diberikan fasilitas, baik perpajakan maupun non-perpajakan.

Kriterianya antara lain industri yang berorientasi ekspor, substitusi impor, padat karya, padat modal, hi-tech dan berbasis digital. “Diharapkan dengan adanya daftar prioritas investasi ini akan menarik investasi yang bukan hanya besar, tapi juga berkualitas dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” ungkapnya.

Koridor di sepanjang Pulau Jawa bagian utara akan dikembangkan

Untuk menguatkan pengembangan industri dan konektivitas transportasi dan logistik, kata dia. Pemerintah melakukan pengembangan koridor di sepanjang Pulau Jawa bagian utara. Secara total koridor Jawa bagian utara merupakan penyumbang 38,7 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dan 53,56 persen terhadap total sektor industri nasional.

Dengan demikian, diharapkan akan mendorong pemanfaatan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Selain itu, mendukung investasi sektor industri, perdagangan dan jasa, meningkatkan ekspor melalui peningkatan daya saing industri. Dan interkoneksi supply chain dan value chain, dan mengintegrasikan kawasan industri dengan sistem pengembangan infrastruktur transportasi dan logistik,” katanya.

Pemerintah menyusun inisiatif pembangunan super hub

Strategi selanjutnya, pemerintah menyusun inisiatif pembangunan super hub sebagai sentra produksi, perdagangan, teknologi dan keuangan.

Saat ini terdapat lima potensi lokasi super hub di Indonesia, yaitu Koridor Bali-Nusa Tenggara, Koridor Sulawesi Utara (Manado-Likupang-Bitung), Batam-Bintan-Karimun-Tanjungpinang (BBKT), Kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Kalimantan Timur. Dan kawasan Segitiga Rebana di Jawa Barat.

Menurut Airlangga, pengembangan industri berbasis klaster melalui super hub di daerah-daerah tersebut akan mendorong pemerataan ekonomi antar daerah.

“Saya yakin ekonomi Indonesia melalui kebijakan konkret dan tepat akan dapat mengatasi tantangan yang sedang terjadi di 2020. Bersama-sama, kita harapkan ke depannya ekonomi Indonesia makin kuat dan sukses,” kata Airlangga.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), saat ini terdapat 143 perusahaan yang memiliki rencana relokasi investasi ke Indonesia. Di antaranya Amerika Serikat (AS), Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong. Dan Tiongkok sendiri dengan potensi penyerapan tenaga kerja mencapai lebih dari 300 ribu tenaga kerja.