Ekonomi As Semakin Terpuruk, Euro Mengalami Penguatan 0,5%

dolar as terpuruk dan euro menguat

Ekonomi As Terpuruk – Dari data baru-baru ini nilai tukar euro berbalik menguat melawan dolar amerika serikat (AS) memasuki perdagangan sesi New York pada hari selasa. Data yang menunjukan ekonomi AS semakin merosot akibat pandemi corona (Covid-19) memberikan tekanan bagi dolar.

Dimana pada pukul 20:03 Wib, euro diperdagangkan di level US$ 1,0859, menguat 0,5% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya mata uang 19 negara ini melemah 0,21% di US$ 1,0783.

Baca Juga: 4 Tips Strategi Bisnis Untuk Bertahan Di Tengah Pandemi Corona

Ekonomi As Semakin Terpuruk

Depteker AS (Departemen Tengaga Kerja AS) pada hari melaporkan bahwa indeks harga konsumsen (IHK) bulan april turun 0,8% month-on-month (MoM) alias mengalami deflasi. Dimana pada bulan maret, As juga mengalami deflasi sebesar 0,4%. Dan pada rilisan terbaru tersebut telah dilengkapi data yang menunjukan merosotnya perekonomian negeri paman sam tersebut.

Jumat pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang bulan April terjadi pengurangan tenaga kerja sebanyak 20,5 juta orang, dan tingkat pengangguran melonjak menjadi 14,7%, yang merupakan level tertinggi sejak Perang Dunia II.

Kebijakan karantina wilayah (lockdown) dan social distancing di AS guna meredam penyebaran virus nCov-2019 menjadi penyebab ambruknya pasar tenaga kerja. Meski demikian, rilis itu masih lebih baik dar prediksi para ekonomi idn poker88 apk yang disurvei Dow Jones yang memprediksi berkurangnya 21,5 juta tenaga kerja dengan tingkat pengangguran sebesar 16%.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, bahkan memprediksi tingkat pengangguran Negeri Paman Sam akan mencapai 25%, sebelum akhirnya membaik.

“Ini bukan salah dunia usaha AS, bukan salah pekerja, ini adalah dampak dari virus. Angka pengangguran kemungkinan akan semakin buruk sebelum kembali membaik. Tahun depan akan menjadi tahun yang jauh lebih bagus,” kata Mnuchin sebagaimana dilansir CNBC International, Minggu (10/5/2020).

Kebijakan Karantina

Kebijakan karantina wilayah (lockdown) dan social distancing membuat roda perekonomian AS melambat, bahkan nyaris terhenti. Karenanya, wajar jika indikator perekonomian negeri Paman Sam “hancur-hancuran”.

Di triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto/PDB) AS mengalami kontraksi alias minus 4,8%. Tidak hanya itu, sepanjang tahun ini, PDB AS juga diprediksi mengalami kontraksi 5,9% oleh Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

Meski demikian, sama dengan pernyataan Mnuchin, IMF memprediksi di tahun depan PDB AS akan tumbuh 4,7%. Bisa dikatakan proyeksi tersebut menjadi yang paling optimis di tahun ini, sebab banyak ekonom memprediksi Negeri Sam akan mengalami resesi yang agak panjang, bahkan mengalami depresi.

Risiko terjadinya depresi diungkapkan oleh Nouriel Roubini, profesor di New York University’s Stern School of Business yang juga chairman dari Roubini Macro Associates LLC. Roubini merupakan orang yang memprediksi tahun 2008 akan terjadi krisis finansial global.

“Sayangnya, saya khawatir ada beberapa tren besar… yang saya sebut ’10 Deadly D’ yang akan membawa kita memasuki masa depresi di dekade ini.” kata Roubini dalam sebuah wawancara di Bloomberg.

Yang dimaksud ’10 Deadly D’ oleh Roubini diantaranya debt, deficit, deglobalization, devaluation, hingga disruption.

Dolar AS Unggul Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, dolar memang mengalami volatilitas akibat rilis data ekonomi AS. Namun dalam jangka panjang, dolar AS sebenarnya masih unggul karena statusnya sebagai safe haven. Setidaknya dalam 3 bulan ke depan, dolar AS malah diprediksi masih akan perkasa.

Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil polling Reuters terhadap 34 ahli strategi mata uang. Hasilnya, sebanyak 26 orang memprediksi dolar AS masih akan perkasa setidaknya hingga triwulan III-2020, 7 orang mengatakan dolar masih akan perkasa tetapi kurang dari 3 bulan, sementara 1 orang mengatakan penguatan greenback sudah berakhir.

“Meski melewati fase panik, dalam beberapa bulan ke depan kita akan melihat banyak data ekonomi, dan data tersebut akan buruk. Saya pikir dengan kondisi tersebut, dari sudut pandang investor tidak akan mau mengambil risiko, sehingga enggan mengalirkan modal ke negara-negara yang lebih rentan,” kata Jane Foley, kepala ahli strategi valas Rabobank, dilansir Reuters.

Dengan kata lain, aliran modal masih akan tetap di dan menuju ke AS yang merupakan negara terkuat di muka bumi ini, meski sedang mengalami kemerosotan ekonomi. Sehingga dolar AS masih akan perkasa beberapa bulan ke depan.

Itulah tadi berita terbaru seputar ekonomi. Dimana ekonomi As semakin terpuruk dan euro berhasil berbalik keadaan dengan penguatan 0,5%. Sekian artikel kali ini, dan jangan lupa untuk membaca artikel kami lainnya yang selalu update seputar dunia ekonomi terbaru.

Sumber: CNBC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *